Hubungan antara Didier Deschamps dan Luis Enrique tidak bisa dikatakan dekat. Keduanya memiliki karakter kuat. Mereka menghindari perselisihan di depan publik, namun tidak memiliki ikatan yang erat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Meski demikian, bos timnas Prancis itu mengandalkan pilar-pilar penting asal PSG seperti Doué, Dembélé, dan Barcola. Berdasarkan pengamatan di lapangan, timnas Prancis kini meminjam beberapa prinsip taktik dari pelatih asal Spanyol tersebut.
Pengaruh PSG terlihat jelas sejak sepak mula. Sebagian besar pelatih di turnamen ini meminta penyerang mereka untuk mengincar lemparan ke dalam yang jauh di wilayah lawan. Perancis menerapkan metode serupa demi menaikkan blok permainan dan memberikan tekanan instan di lini pertahanan musuh.
Saat Prancis mengalahkan Maroko 2-0 di perempat final, performa mereka tanpa bola sangat mengesankan. Ketika kehilangan bola, taktik pressing ketat langsung berjalan. Pemain lawan yang menguasai bola segera dikepung oleh dua atau tiga pemain Prancis.
Menurut Mohamed Ouahbi, pelatih timnas Maroko, Prancis kini memiliki kolektivitas yang luar biasa. "Timnas Prancis tidak pernah memiliki pemain sebanyak ini yang mampu berlari bersama. Kali ini, mereka benar-benar bekerja keras untuk tim. Bahkan saat kehilangan bola, kami tahu mereka tetap sangat tangguh," ujarnya setelah pertandingan.
Taktik unik PSG dalam mengeksekusi penalti juga ditiru. Di final Liga Champions, Vitinha sempat berpura-pura menjadi eksekutor untuk memecah konsentrasi pemain Arsenal, sebelum akhirnya Ousmane Dembélé maju mengambil bola dan mencetak gol.
Skenario tipuan penalti ini diulang oleh Prancis saat menghadapi Paraguay dan Maroko di fase gugur Piala Dunia. Seluruh perhatian lawan teralihkan kepada Ousmane Dembélé, memberikan waktu bagi Kylian Mbappé untuk bersiap dengan tenang sebelum mengeksekusi penalti.
Selain itu, Prancis kini lebih sering mengambil tendangan sudut pendek melalui kombinasi Dembélé, Olise, Mbappé, atau Doué. Keputusan ini diambil karena para pemain merasa tim tidak memiliki keunggulan dalam duel udara untuk memanfaatkan umpan silang langsung.